Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Post ADS 1

Tag Terpopuler

Bupati Dian Launching GEMBOL, Dorong Boled Kuningan Tembus Pasar Lebih Luas

Minggu, 20 September 2026 | 21.34 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-21T04:34:58Z


KUNINGAN, ( pemudakuningan ) – Pemerintah Kabupaten Kuningan terus mendorong sektor pertanian sebagai salah satu fondasi ketahanan pangan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Salah satunya melalui peluncuran GEMBOL (Gerakan Menanam Boled) yang digagas untuk memperkuat pengembangan komoditas ubi jalar di Kabupaten Kuningan.


Gerakan tersebut secara resmi diluncurkan Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., dalam kegiatan Sosialisasi Demplot Pertanian Tahun Anggaran 2026 sekaligus penyerahan bantuan sarana produksi pertanian di Lapangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Senin (21/9/2026).


Dalam sambutannya, Bupati Dian menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur dan teknologi, tetapi juga harus memastikan ketahanan pangan masyarakat.


“Percuma jalan bagus, gedung bagus, teknologi maju, kalau kita tidak bisa makan. Intinya pembangunan itu harus mengutamakan ketahanan pangan,” ujar Dian.

 

Boled Kuningan Dinilai Punya Potensi Pasar


Bupati Dian mengatakan sektor pertanian memiliki prospek besar sebagai sumber penghidupan masyarakat. Karena itu, stigma bahwa profesi petani identik dengan kemiskinan menurutnya perlu ditinggalkan.


Perkembangan pasar dan meningkatnya perhatian terhadap ketahanan pangan dinilai membuka peluang bagi generasi muda untuk mengembangkan sektor pertanian secara lebih modern dan profesional.


Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah ubi jalar atau boled. Dian menilai komoditas tersebut tidak hanya memiliki potensi sebagai bahan pangan, tetapi juga dapat dikembangkan melalui pengolahan dan pemasaran hingga pasar yang lebih luas.


Ia bahkan menceritakan pengalamannya melihat produk olahan ubi jalar asal Kuningan dalam sebuah festival makanan internasional di Seoul, Korea Selatan.


“Boled ini prospeknya luar biasa. Korea, Jepang dan negara-negara Asia lainnya sudah mulai melirik makanan yang sehat seperti ubi jalar. Ini peluang yang harus kita manfaatkan,” ungkapnya.


Menurut Dian, pengembangan pertanian tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi. Petani juga perlu diperkuat dari sisi pengetahuan, teknologi, kelembagaan, sarana produksi hingga akses pemasaran.


Ia mendorong petani membangun kelembagaan yang kuat agar memiliki posisi tawar yang lebih baik.


“Kalau kita berjuang sendiri-sendiri mungkin tidak terdengar. Tetapi kalau petani kompak dan memiliki kelembagaan, posisi tawarnya akan berbeda,” katanya.


Kuningan Masuk Kawasan Pertanian Nasional


Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan Wahyu Hidayah menyampaikan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat pembangunan pertanian melalui demplot, peningkatan kapasitas kelembagaan serta bantuan sarana produksi.


Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 02/KPTS/2025 tentang Kawasan Pertanian Nasional, Kabupaten Kuningan ditetapkan sebagai bagian dari kawasan pertanian nasional untuk sejumlah komoditas tanaman pangan.


Kawasan tersebut meliputi padi seluas 27.716 hektare, jagung 2.500 hektare, ubi kayu 1.180 hektare, dan ubi jalar 2.530 hektare.


“Kebijakan ini bukan hanya angka dalam sebuah dokumen. Ini adalah amanah, peluang sekaligus tanggung jawab. Kawasan pertanian yang telah ditetapkan harus kita isi dengan produktivitas, inovasi, peningkatan kualitas, penguatan kelembagaan dan peningkatan kesejahteraan petani,” ujar Wahyu.


Dalam kegiatan tersebut, Pemkab Kuningan juga menyerahkan bantuan pupuk kepada 300 petani ubi jalar.


Wahyu menegaskan, bantuan tersebut tidak boleh dipandang sebatas pemberian barang. Pupuk merupakan salah satu input produksi yang tujuan akhirnya harus bermuara pada peningkatan produktivitas, keuntungan usaha tani dan kesejahteraan keluarga petani.


“Bantuan tanpa pengetahuan tidak akan optimal, teknologi tanpa pendampingan tidak akan maksimal, dan produksi tanpa kelembagaan yang kuat akan sulit berkembang menjadi kekuatan ekonomi,” jelasnya.


Demplot Tingkatkan Produktivitas Boled


Pengalaman keberhasilan demplot juga disampaikan Bangun, salah seorang petani asal Desa Linggamekar, Kecamatan Cilimus.


Ia mengatakan, sebelum menerapkan pola budidaya dan pemupukan berdasarkan hasil demplot, produktivitas ubi jalar di wilayahnya berada di kisaran 3,5 ton per 100 bata.


Setelah menerapkan pola budidaya dari hasil demplot, produktivitas meningkat menjadi sekitar 6,3 ton per 100 bata pada musim penghujan.


Menurut Bangun, peningkatan hasil tersebut tidak hanya dipengaruhi pupuk, tetapi merupakan hasil dari proses budidaya secara menyeluruh, mulai dari persiapan lahan, kondisi pH tanah, pemilihan bibit, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit hingga perawatan tanaman.


Ia juga berharap dukungan pemerintah terhadap sarana dan alat mesin pertanian terus diperkuat, terutama traktor.


“Kami berharap bantuan untuk alat pertanian, terutama traktor, karena di tempat kami lahannya ratusan hektare sementara traktornya hanya satu atau dua. Kalau mau menggunakan, harus menunggu cukup lama,” ungkapnya.


GEMBOL Jadi Gerakan Penguatan Ekosistem Boled


Dengan diluncurkannya GEMBOL, Pemerintah Kabupaten Kuningan berharap pengembangan ubi jalar tidak berhenti pada kegiatan menanam dan meningkatkan produksi.


Gerakan tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem pertanian secara lebih menyeluruh, mulai dari budidaya, peningkatan produktivitas, pengolahan hasil hingga perluasan akses pasar.


Bupati Dian menegaskan pemerintah daerah akan terus memberikan perhatian terhadap pengembangan sektor pertanian dan mengajak seluruh pihak memperkuat sinergi.


“Yang paling penting adalah kerja sama dan kekompakan antara petani, pemerintah dan PPL. Dengan kerja sama dan kekompakan, saya yakin hasil pertanian kita bisa terus meningkat,” pungkasnya.


Launching GEMBOL ditandai dengan pernyataan resmi Bupati Kuningan bahwa Gerakan Menanam Boled Kabupaten Kuningan telah diluncurkan.


Program tersebut diharapkan menjadi salah satu pengungkit pengembangan ubi jalar Kuningan sekaligus membuka peluang lebih besar bagi petani untuk meningkatkan produktivitas, nilai tambah dan kesejahteraan melalui sektor pertanian.


( Rizky )

×
Berita Terbaru Update