Telusuri
24 C
id
  • Sign in / Join
  • Blog
  • Forums
Pemuda Kuningan
Buy template blogger
  • News
  • Eksekutif
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Budaya
    • Wisata
  • Politik
    • Video
  • Olahraga
  • Video
  • Featured
    • Home - Homepage
    • Home - Post Single
    • Home - Post Label
    • Home - Post Search
    • Home - Post Archive
    • Home - Eror 404
    • RTL LanguageNew
    • ChangelogNew
Pemuda Kuningan
Telusuri
Beranda Kematian Massal Ikan Keramat Balong Girang, Alarm Serius Tata Kelola Lingkungan dan Warisan Budaya Kuningan Kematian Massal Ikan Keramat Balong Girang, Alarm Serius Tata Kelola Lingkungan dan Warisan Budaya Kuningan

Kematian Massal Ikan Keramat Balong Girang, Alarm Serius Tata Kelola Lingkungan dan Warisan Budaya Kuningan

Abas
Abas
02 Feb, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


KUNINGAN, pemudakuningan.id – Kematian ratusan ikan keramat di Balong Girang, Kecamatan Cigugur, bukan sekadar peristiwa biologis biasa. Ia adalah alarm keras bagi tata kelola lingkungan, perhatian negara terhadap warisan budaya lokal, serta keseriusan pemerintah daerah dalam menjaga simbol-simbol sakral masyarakat Kuningan.


Dalam beberapa hari terakhir, ratusan ikan yang selama puluhan tahun dipercaya sebagai ikan keramat itu dilaporkan mati secara bertahap. Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., akhirnya turun langsung ke lokasi pada Minggu (1/2/2026) setelah laporan kematian ikan terus bertambah dan menimbulkan keresahan publik.


Data awal menyebutkan, kematian ikan mulai terdeteksi sejak Kamis dengan jumlah sekitar 24 ekor. Namun situasi berkembang cepat dan tak terkendali. Hingga akhir pekan, jumlah ikan mati melonjak tajam, menembus angka lebih dari 150 ekor—sebuah kejadian yang diakui Bupati belum pernah terjadi sebelumnya.


“Baru saja saya cek, jumlahnya sudah di atas 150 ekor sejak hari Rabu. Ini persoalan serius,” tegas Bupati Dian di lokasi.


Kepala Bidang Perikanan Diskanak Kuningan, Denny Rianto, mengungkapkan adanya indikasi kuat penyakit pada ikan. Beberapa temuan lapangan menunjukkan mulut ikan memutih, adanya parasit cacing, serta dugaan perubahan suhu air yang ekstrem. Namun hingga kini, penyebab pasti kematian massal tersebut masih belum dapat dipastikan.


Situasi ini menimbulkan pertanyaan lebih jauh:


apakah kolam yang selama ini menjadi ikon wisata spiritual tersebut dikelola dengan standar ekologis yang memadai? Apakah pengawasan rutin, pengurasan kolam, dan pengendalian kualitas air benar-benar dilakukan, atau justru dibiarkan berjalan secara tradisional tanpa evaluasi ilmiah?


Sebagai langkah darurat, petugas merekomendasikan penambahan oksigen melalui pompanisasi air. Bupati pun langsung menginstruksikan penambahan pompa dengan berkoordinasi lintas dinas, termasuk Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian.


“Langkah cepat harus dilakukan. Jangan sampai jumlah ikan yang mati terus bertambah,” ujar Bupati.


Namun, langkah reaktif semata dinilai belum cukup. Peristiwa ini seharusnya menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan Balong Girang—bukan hanya sebagai objek wisata, tetapi sebagai ruang sakral yang hidup, yang menuntut pendekatan ilmiah, ekologis, dan kultural sekaligus.


Bupati Dian sendiri mengakui dimensi simbolik ikan keramat tersebut bagi masyarakat Kuningan.


“Ikan ini bukan sekadar objek wisata. Ia adalah simbol dan kebanggaan masyarakat Kuningan. Ikan yang tidak ditemukan di daerah lain. Saya sangat sedih dan menyesalkan kejadian ini,” ungkapnya.


Ia juga mengapresiasi laporan masyarakat dan mengimbau warga agar tidak ragu menyampaikan informasi terkait persoalan krusial di lingkungan mereka.


“Untuk hal-hal serius, jangan sungkan melapor. Bisa lewat WhatsApp ke dinas terkait atau camat. Insyaallah akan segera kita tangani,” katanya.


Namun publik berhak bertanya:

mengapa kematian ikan baru ditangani setelah jumlahnya ratusan?

di mana sistem peringatan dini dan monitoring rutin selama ini?


Kematian ikan keramat Balong Girang seharusnya tidak berhenti sebagai berita seremonial kunjungan pejabat. Ia mesti menjadi cermin kegagalan kolektif dalam merawat alam, budaya, dan simbol-simbol lokal yang selama ini hanya dipuja secara retoris, namun abai dalam perawatan nyata.



.AY

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Responsive Advertisement
- Advertisment -
Responsive Advertisement

Featured Post

BAZNAS Kuningan Disorot: Seleksi Diduga Sarat Titipan Politik, Profesionalisme Dipertanyakan

Abas- Maret 20, 2026 0
BAZNAS Kuningan Disorot: Seleksi Diduga Sarat Titipan Politik, Profesionalisme Dipertanyakan
KUNINGAN, ( PK ) — Proses seleksi calon Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Kuningan menuai sorotan tajam. Dugaan adanya “pengondisian” sejak aw…

Most Popular

Peresmian Tugu Angklung Kuningan: Simbol Budaya yang Mendunia

Peresmian Tugu Angklung Kuningan: Simbol Budaya yang Mendunia

Maret 18, 2026
PAC PP Mandirancan Gelar Santunan Yatim dan Dhuafa, Dapat Apresiasi Bupati

PAC PP Mandirancan Gelar Santunan Yatim dan Dhuafa, Dapat Apresiasi Bupati

Maret 18, 2026
Ketika Aparat Intelijen Menyiram Asam ke Demokrasi

Ketika Aparat Intelijen Menyiram Asam ke Demokrasi

Maret 18, 2026

Editor Post

Gelombang Protes Guncang Desa Kalapagunung, Warga Desak Ngabihi Mundur Gara-Gara Kasus Asusila

Gelombang Protes Guncang Desa Kalapagunung, Warga Desak Ngabihi Mundur Gara-Gara Kasus Asusila

September 30, 2025
Karnaval Budaya Hari Jadi Kuningan ke-527 Digelar 5 Oktober

Karnaval Budaya Hari Jadi Kuningan ke-527 Digelar 5 Oktober

September 25, 2025
Kuningan Fair Tinggalkan Sampah, H+4 Masih Menumpuk — Ade Kurniawan (Huma) Desak Pemerintah Jangan Cuci Tangan!

Kuningan Fair Tinggalkan Sampah, H+4 Masih Menumpuk — Ade Kurniawan (Huma) Desak Pemerintah Jangan Cuci Tangan!

September 13, 2025

Popular Post

Peresmian Tugu Angklung Kuningan: Simbol Budaya yang Mendunia

Peresmian Tugu Angklung Kuningan: Simbol Budaya yang Mendunia

Maret 18, 2026
PAC PP Mandirancan Gelar Santunan Yatim dan Dhuafa, Dapat Apresiasi Bupati

PAC PP Mandirancan Gelar Santunan Yatim dan Dhuafa, Dapat Apresiasi Bupati

Maret 18, 2026
Ketika Aparat Intelijen Menyiram Asam ke Demokrasi

Ketika Aparat Intelijen Menyiram Asam ke Demokrasi

Maret 18, 2026

Populart Categoris

Pemuda Kuningan

About Us

Pemuda Kuningan berkembang, berkontribusi, dan menjadi agen perubahan..

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

© pemuda kuningan (PK)
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us