KUNINGAN, PemudaKuningan.id – Sepak takraw Kabupaten Kuningan memasuki babak baru. Pemerintah daerah mendorong cabang olahraga tersebut tidak hanya mengejar prestasi, tetapi terlebih dahulu membangun basis pembinaan hingga ke sekolah dan kecamatan.
Hal itu disampaikan Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. saat mengukuhkan Pengurus Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Kabupaten Kuningan, Rabu (16/9/2026), di Aula Rapat Bank Bjb Cabang Kuningan.
Pengukuhan tersebut dirangkaikan dengan Coaching Clinic bagi guru PJOK SD dan SMP sederajat se-Kabupaten Kuningan. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi memperkenalkan sepak takraw sekaligus membuka ruang pencarian bibit atlet dari lingkungan sekolah.
Turut hadir jajaran Pengurus Provinsi PSTI Jawa Barat, Plt. Kepala Disporapar Kuningan Drs. H. Ucu Suryana, M.Si., perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, KONI Kabupaten Kuningan, tokoh olahraga, insan pendidikan, pelatih, atlet serta tamu undangan lainnya.
Tantangan Bukan Sekadar Prestasi
Ketua PSTI Kabupaten Kuningan, Agung Purwandono, M.Pd., mengatakan pengembangan sepak takraw masih menghadapi tantangan karena olahraga tersebut belum sepopuler sepak bola maupun futsal.
“Sepak takraw ini bukan seperti futsal, sepak bola, atau cabang olahraga lainnya yang sudah digemari. Ini menjadi tantangan bagi kami untuk memasyarakatkan sepak takraw di Kuningan sebelum kita berbicara tentang prestasi,” ujar Agung.
Meski demikian, ia menyebut sepak takraw Kuningan mulai menunjukkan perkembangan. Tim putra dan putri berhasil lolos ke Porprov 2026. Sementara pada pembinaan pelajar, Kuningan juga mencatatkan capaian dengan masuk delapan besar Popda dan semifinal Popwilda.
PSTI Kuningan kini menargetkan pembinaan diperluas. Tidak hanya bertumpu pada atlet yang sudah ada, tetapi mulai masuk ke sekolah-sekolah dan kecamatan.
Salah satu langkahnya melalui coaching clinic yang diikuti guru PJOK. Para guru diharapkan memiliki pemahaman dasar mengenai teknik dan potensi sepak takraw sehingga dapat mengenalkan sekaligus membina olahraga tersebut di sekolah.
“Tujuannya agar sepak takraw tersebar dan terinformasikan di semua kecamatan di Kabupaten Kuningan. Diharapkan masing-masing guru PJOK bisa membina sepak takraw di kecamatannya,” kata Agung.
Sebagai bagian dari pembinaan dan pencarian bibit, PSTI Kuningan juga akan menggelar Kejuaraan Sepak Takraw Antar Pelajar SD dan SMP sederajat tingkat Kabupaten Kuningan pada 3–4 Oktober 2026.
Bupati: Guru PJOK Jadi Pintu Awal Temukan Bibit Atlet
Bupati Dian menegaskan kehadirannya dalam pengukuhan PSTI bukan tanpa alasan. Menurutnya, pemerintah perlu memberikan perhatian kepada cabang olahraga yang masih membutuhkan dorongan agar lebih dikenal masyarakat.
“Olahraga yang sudah terkenal mah sanes teu didokokan ku bupati ge da geus jalan nyalira. Justru abdi mah dongkap ka cabang-cabang olahraga yang memang belum begitu dikenal, untuk memberikan semangat dan spirit,” ungkapnya.
Menurut Dian, pekerjaan rumah sepak takraw bukan semata-mata mencetak juara. Hal yang lebih mendasar adalah bagaimana membangun kecintaan masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap olahraga tersebut.
Kuningan, kata dia, memiliki banyak anak muda dengan potensi olahraga. Persoalannya adalah bagaimana potensi itu ditemukan sejak dini, kemudian dibina dan diarahkan sesuai bakatnya.
“Bagaimana potensi itu ketemu, kita bina dan kita arahkan sejak dini. Kan itu saja persoalannya,” tuturnya.
Dalam proses tersebut, guru PJOK dinilai memiliki posisi strategis. Guru menjadi salah satu pihak yang paling awal dapat melihat kemampuan fisik dan potensi olahraga seorang peserta didik.
“Guru PJOK sebenarnya memiliki peran yang sangat penting. Dari guru PJOK dapat diketahui, anak ini memiliki potensi di bidang olahraga apa dan kemudian diarahkan sesuai dengan bakatnya. Jadi, kenali bakatnya dan arahkan kepada pembinaan yang lebih tepat,” kata Dian.
Sepak Takraw Diminta Dikemas Lebih Menarik
Bupati juga meminta PSTI melakukan pendekatan yang lebih kreatif dalam memperkenalkan sepak takraw kepada generasi muda.
Menurutnya, karakter permainan sepak takraw yang atraktif sebenarnya memiliki daya tarik tersendiri. Gerakan pemain yang membutuhkan teknik, kelenturan, keberanian dan koordinasi dapat menjadi materi menarik untuk diperkenalkan melalui berbagai platform, termasuk media sosial.
“Sepak takraw merupakan olahraga yang atraktif. Olahraga ini cukup berbahaya karena pemain harus melakukan gerakan menendang bola hingga 180 derajat sambil melompat. Sepak takraw memiliki seni dan gaya teknik tersendiri,” ujarnya.
Karena itu, PSTI didorong membuat program yang menarik dan terjangkau, sekaligus memanfaatkan media sosial untuk memperlihatkan teknik-teknik atraktif maupun profil atlet profesional.
Tujuannya sederhana, agar generasi muda melihat sepak takraw bukan sebagai olahraga yang asing, tetapi sebagai salah satu pilihan olahraga yang menarik untuk dipelajari dan ditekuni.
Sekolah, Klub dan PSTI Harus Terhubung
Dian juga menekankan pentingnya membangun ekosistem pembinaan yang jelas. Menurutnya, sekolah, klub dan organisasi PSTI harus memiliki peran masing-masing namun tetap terhubung.
“Sekolah menjadi tempat mencari bibit, klub menjadi tempat pembinaan, dan PSTI menjadi penggerak serta penggagas kompetisi. Sekolah, klub dan organisasi ini harus saling terkait sehingga menciptakan sebuah ekosistem olahraga sepak takraw yang mendukung,” jelasnya.
Dengan pola tersebut, pencarian atlet berbakat diharapkan tidak lagi berjalan sporadis. Bibit ditemukan dari sekolah, kemudian mendapatkan pembinaan melalui klub dan diarahkan dalam kompetisi yang dikelola secara berkelanjutan.
Lebih jauh, Dian mengingatkan bahwa pembinaan olahraga tidak hanya berorientasi pada medali dan juara.
Olahraga, menurutnya, juga menjadi ruang pembentukan karakter, mental, kedisiplinan, kerja sama, sportivitas serta kemampuan menghadapi kekalahan.
“Berbicara tentang pembinaan olahraga tidak hanya menciptakan juara, tapi kita membentuk karakter, mental, sportif. Kemampuan untuk bangkit ketika kalah, keberanian untuk kerja sama, disiplin, kerja keras, itu nilai-nilai di olahraga yang penting dalam hidup,” ungkapnya.
Pemerintah Kabupaten Kuningan, lanjut Dian, akan terus mendorong pengembangan olahraga sebagai bagian dari pembangunan kualitas sumber daya manusia.
“Pemerintah daerah akan selalu hadir, akan mendorong bagaimana olahraga ini adalah salah satu variabel penting membangun kualitas sumber daya manusia,” katanya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan pembukaan resmi Coaching Clinic Guru Olahraga SD dan SMP sederajat tingkat Kabupaten Kuningan oleh Bupati Dian.
Kepengurusan PSTI Kabupaten Kuningan yang baru diharapkan mampu membawa energi baru, memperluas pembinaan hingga tingkat kecamatan, sekaligus mengantarkan prestasi sepak takraw Kuningan ke level provinsi hingga nasional.
( Abas )


.png)