Jembatan Cijemit Kembali Rusak Diterjang Arus, Proyek Belum Rampung Tuai Sorotan Warga
KUNINGAN, ( PK ) – Hujan deras yang disertai angin kencang kembali memperparah kondisi jembatan penghubung di wilayah Desa Cijemit, Desa Gunung Manik, dan Desa Pinara, Kecamatan Ciniru. Besi konstruksi jembatan yang belum rampung dilaporkan kembali terbawa arus sungai, memicu kekecewaan dan kritik dari warga setempat.
Dalam rekaman video yang beredar, terlihat derasnya aliran sungai menghantam struktur jembatan. Sejumlah bagian rangka besi tampak tidak mampu bertahan dan terseret arus, memperlihatkan kondisi pembangunan yang dinilai belum siap menghadapi cuaca ekstrem.
Padahal, jembatan tersebut merupakan akses penting bagi masyarakat. Selain digunakan sebagai jalur alternatif pejalan kaki, jembatan ini juga mempercepat mobilitas warga. Tanpa akses tersebut, warga harus memutar dengan selisih waktu tempuh sekitar 10 menit menggunakan kendaraan.
“Ini akses vital. Kalau tidak lewat sini, harus muter jauh. Sudah begitu, pembangunannya juga belum selesai tapi sudah rusak lagi,” ungkap salah seorang warga.
Proyek Disorot, Kualitas Dipertanyakan
Kerusakan yang terjadi sebelum proyek rampung memunculkan pertanyaan serius terkait kualitas perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Warga menilai, proyek infrastruktur yang berada di wilayah rawan luapan sungai semestinya dirancang dengan memperhitungkan risiko banjir dan kekuatan arus.
Kondisi ini memperkuat dugaan adanya kelemahan dalam aspek teknis maupun pengawasan. Pasalnya, struktur yang belum selesai seharusnya memiliki sistem pengamanan sementara agar tidak mudah rusak sebelum digunakan.
“Kalau dari awal sudah tidak kuat, bagaimana nanti kalau sudah dipakai? Ini harus jadi bahan evaluasi,” tambah warga lainnya.
Minim Antisipasi, Pengawasan Dipertanyakan
Selain persoalan teknis, warga juga menyoroti minimnya langkah antisipasi dari pihak pelaksana proyek. Tidak terlihat adanya perlindungan sementara seperti penahan arus atau penguatan struktur selama masa pembangunan berlangsung.
Hal ini menimbulkan kesan bahwa proyek berjalan tanpa mitigasi risiko yang memadai, terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem yang kerap terjadi belakangan ini.
Desakan Transparansi dan Tanggung Jawab
Warga mendesak pemerintah daerah serta pihak terkait untuk segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh. Transparansi anggaran, perencanaan teknis, hingga pengawasan proyek menjadi tuntutan utama agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Menurut warga, pembangunan infrastruktur tidak hanya soal penyelesaian fisik, tetapi juga menyangkut kualitas, ketahanan, dan keselamatan pengguna dalam jangka panjang.
“Jangan sampai anggaran sudah keluar, tapi hasilnya tidak bertahan. Kami butuh jembatan yang benar-benar layak dan aman,” tegas warga.
Aktivitas Warga Terganggu
Akibat rusaknya kembali jembatan tersebut, aktivitas masyarakat lintas desa terganggu. Pelajar, pekerja, hingga warga yang bergantung pada akses itu kini harus kembali mencari jalur alternatif yang lebih jauh dan memakan waktu.
Peristiwa ini menjadi peringatan penting bagi semua pihak bahwa pembangunan infrastruktur, khususnya di daerah rawan bencana, harus dilakukan dengan perencanaan matang, pengawasan ketat, serta komitmen terhadap kualitas agar tidak merugikan masyarakat.
.AY

Posting Komentar