Wakil Ketua DPR RI Dukung Gerakan Nasional Stop Bullying, Film “Aku Bukan Musuhmu tapi Aku Sahabatmu” Hadir Selamatkan Masa Depan Generasi
KUNINGAN, ( PK ) – Gerakan Nasional Stop Bullying atau Stop Perundungan terus mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat. Salah satunya datang dari Wakil Ketua DPR RI Prof. Dr. Sufmi Dasco Ahmad, S.H., M.H., yang menyampaikan dukungan terhadap kampanye perlindungan anak dan pentingnya menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, serta bebas dari kekerasan.
Dukungan tersebut turut menguatkan kehadiran film layar lebar “Aku Bukan Musuhmu tapi Aku Sahabatmu”, yang mengangkat isu perundungan sekaligus mengedepankan nilai persahabatan, kepedulian, kemanusiaan, dan perlindungan terhadap anak.
Gerakan ini mengusung semangat “Stop Bullying, Stop Kekerasan, Bangun Persahabatan, Wujudkan Indonesia yang Ramah, Beradab dan Berkemanusiaan.”
Apresiasi terhadap Gagasan Pangeran Kuda Putih
Dalam gerakan tersebut, Prof. Sufmi Dasco Ahmad turut memberikan apresiasi kepada Kanjeng Gusti Sultan Sepuh Cirebon Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja, S.Psi., M.H., atau yang dikenal sebagai Pangeran Kuda Putih, yang menggagas ide cerita, menulis skenario, sekaligus menjadi produser film Aku Bukan Musuhmu tapi Aku Sahabatmu.
Kehadiran film tersebut dinilai menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap persoalan perundungan yang masih menjadi perhatian serius dalam kehidupan anak dan remaja.
Pesan yang disampaikan pun tidak semata-mata berhenti pada hiburan. Film ini diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk membangun budaya saling menghargai serta menciptakan ruang tumbuh yang aman bagi anak-anak.
Keterlibatan tokoh dari lingkungan kerajaan dan kesultanan Nusantara juga menjadi gambaran bahwa perlindungan generasi muda merupakan tanggung jawab bersama.
Pemerintah, keluarga, dunia pendidikan, tokoh masyarakat, seniman, budayawan, hingga seluruh elemen masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah kekerasan dan perundungan.
Film yang Lahir dari Kepedulian
Film Aku Bukan Musuhmu tapi Aku Sahabatmu digagas dan ditulis oleh Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja atau Pangeran Kuda Putih, Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan Kesultanan Cirebon, yang juga bertindak sebagai produser.
Film tersebut disutradarai Rd. Beben Firmansyah Arianatareja, putra sutradara nasional almarhum H. Maman Firmansyah.
Sejumlah nama yang disebut terlibat dalam produksi film ini antara lain Sandy Tumiwa, Yama Carlos, Dery Sulaiman, Berbie Kumala, Dede Satria, Vicky Prasetyo, serta sejumlah pemeran dan publik figur lainnya.
Tim produksi juga menyiapkan sejumlah kameo yang diharapkan mampu menambah daya tarik film sekaligus memperluas jangkauan pesan kampanye Stop Bullying kepada masyarakat.
Ketika Perlindungan Anak Menjadi Gerakan Bersama
Dukungan terhadap kampanye Stop Bullying menunjukkan bahwa persoalan perundungan tidak semestinya dipandang sebagai masalah individual semata.
Perundungan dapat memberikan dampak serius terhadap kehidupan anak, baik di lingkungan pendidikan maupun dalam kehidupan sosial. Karena itu, upaya pencegahannya membutuhkan keterlibatan orang tua, sekolah, masyarakat, pemerintah, serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap perlindungan anak.
Film ini mencoba menyampaikan pesan sederhana bahwa setiap anak membutuhkan lingkungan yang membuat mereka merasa aman, diterima, dihargai, dan memiliki ruang untuk berkembang.
Di balik seorang anak yang menjadi korban perundungan, bisa saja terdapat cita-cita dan potensi besar yang terancam hilang.
Sebaliknya, ketika seorang anak berhasil dilindungi dan mendapatkan lingkungan yang sehat, bangsa sesungguhnya sedang menjaga masa depannya sendiri.
Sejalan dengan Pembangunan Generasi Indonesia
Gerakan perlindungan anak juga sejalan dengan agenda pembangunan sumber daya manusia serta cita-cita mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, berkarakter, tangguh, dan memiliki kesempatan berkembang secara optimal.
Karena itu, menghentikan bullying tidak cukup hanya dengan slogan.
Diperlukan keberanian untuk mencegah, menegur, melindungi korban, memberikan edukasi kepada pelaku, serta membangun lingkungan sosial yang secara tegas menolak segala bentuk kekerasan terhadap anak.
Kehadiran film Aku Bukan Musuhmu tapi Aku Sahabatmu diharapkan menjadi salah satu medium untuk menyampaikan pesan tersebut kepada masyarakat luas.
Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh bagaimana bangsa ini memperlakukan anak-anaknya hari ini.
Stop Bullying. Stop Perundungan. Stop Kekerasan.
Bangun Persahabatan. Selamatkan Generasi Indonesia.
“Aku Bukan Musuhmu, tapi Aku Sahabatmu.”
.AY

Posting Komentar