Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Post ADS 1

Tag Terpopuler

Pasawahan Genjot Pariwisata, Bupati Dian Dorong GEMMPAR Jadi Gerakan Bersama

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 03.25 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-03T10:25:28Z


KUNINGAN, ( pemudakuningan ) – Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, mulai memperkuat langkah menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat. Momentum tersebut ditandai dengan peluncuran Gerakan Masyarakat Menuju Kecamatan Pariwisata (GEMMPAR) bertepatan dengan Hari Jadi ke-34 Kecamatan Pasawahan.


Kegiatan yang dipusatkan di Terminal Wisata Paniis, Kecamatan Pasawahan, Sabtu (3/10/2026), dihadiri langsung Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si.


Peringatan Hari Jadi ke-34 Kecamatan Pasawahan berlangsung semarak. Masyarakat mengikuti Senam Kuningan Melesat, jalan santai, pertunjukan seni dan budaya, hingga bazar UMKM serta pameran berbagai produk masyarakat.


Sejumlah kesenian lokal turut ditampilkan, mulai dari atraksi silat, Tari Topeng Kelana, seni teatrikal, Tari Sinten Dolanan, Ibing Kaulinan Budak, Angklung Hombeang, hingga pertunjukan jaipong dari sejumlah desa.


Bupati Dian mengapresiasi kekompakan masyarakat Pasawahan yang menurutnya menjadi modal penting dalam mengembangkan wilayah.


“Selamat ulang tahun, milad Kecamatan Pasawahan yang ke-34. Saya yakin dengan usia yang cukup panjang ini, Pasawahan akan mampu maju melesat,” ujar Dian.


Pariwisata Jadi Kekuatan Pasawahan


Menurut Dian, Pasawahan memiliki modal yang kuat untuk berkembang sebagai kawasan pariwisata. Tidak hanya memiliki bentang alam yang menarik, kawasan tersebut juga mempunyai kekayaan budaya dan masyarakat yang dikenal ramah.


“Pariwisata adalah core business. Visi Kuningan dan RPJMD didominasi oleh bagaimana kita membangun pertanian dan pariwisata. Pasawahan merupakan salah satu pusat pembangunan Kuningan ke depan karena selaras dengan visi tersebut,” katanya.


Bupati menyebut Kabupaten Kuningan telah memiliki pasar wisata yang cukup besar. Berdasarkan data yang disampaikannya, jumlah kunjungan wisatawan pada 2024 mencapai sekitar 3,824 juta wisatawan. Sementara wisatawan mancanegara tercatat sekitar 224 orang dan meningkat menjadi sekitar 470 orang pada 2025.


Namun, menurut Dian, tantangan pariwisata Kuningan bukan hanya mendatangkan wisatawan, melainkan bagaimana membuat mereka tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya di daerah.


“Ulah sampai datang ka Pasawahan ngan ukur foto-foto bae langsung pulang. Bagaimana supaya mereka tinggal lebih lama, supaya belanja, sehingga uangnya tidak dibawa pulang tetapi dibelanjakan di Pasawahan,” ungkapnya.


Pasawahan sendiri memiliki sejumlah destinasi unggulan, seperti Paniis, Telaga Biru, Telaga Remis, Cibuntu, Balong Kembang dan Telaga Nilem.


Dian menilai Pasawahan tidak perlu mencari identitas wisata baru karena kekuatan tersebut sudah dimiliki.


“Identitasnya sebenarnya sudah ada. Tinggal dirawat, dikembangkan, dan dipromosikan. Insya Allah ini akan membawa Pasawahan menjadi salah satu destinasi wisata pusat di Kuningan sekaligus membawa kesejahteraan bagi masyarakat,” tuturnya.


Ramah dan Bersih Jadi Kunci


Bupati menegaskan, pembangunan pariwisata tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur dan melakukan promosi. Sumber daya manusia, terutama karakter masyarakat dalam menerima wisatawan, menjadi faktor penting.


Ia meminta masyarakat Pasawahan mempertahankan sikap ramah, terbuka dan bersahabat kepada wisatawan.


“Tolong saya titip, karakter masyarakat Pasawahan harus ramah, hangat, dan bersahabat. Jangan kasar, jangan sombong, sehingga wisatawan kapok untuk datang untuk kedua kalinya,” pesannya.


Selain keramahan, kebersihan kawasan juga menjadi perhatian. Masyarakat bersama pemerintah kecamatan dan desa diminta menjaga lingkungan destinasi agar tetap bersih, nyaman dan menarik bagi pengunjung.


Menurut Dian, fasilitas yang baik tidak akan memberikan dampak maksimal apabila tidak didukung keramahan masyarakat dan kebersihan lingkungan.


Terminal Paniis Didorong Kembali Hidup


Bupati Dian juga meminta peluncuran GEMMPAR tidak berhenti sebagai seremoni. Ia berharap gerakan tersebut benar-benar berjalan dan menjadi gerakan bersama masyarakat.


“Jangan sekarang dideklarasikan, pas saya pulang sepi lagi,” ujarnya.


Terminal Wisata Paniis juga mendapat perhatian khusus. Bupati mendorong agar fasilitas tersebut tidak hanya ramai ketika ada kegiatan, tetapi dapat difungsikan secara optimal sebagai bagian dari ekosistem pariwisata Pasawahan.


Ia meminta Camat Pasawahan berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan dan para kepala desa untuk menyusun konsep operasional terminal.


Bahkan, Dian mendorong adanya integrasi antardestinasi melalui konsep aglomerasi pariwisata. Dengan demikian, wisatawan yang datang ke satu titik dapat dengan mudah melanjutkan perjalanan ke destinasi lainnya di Kecamatan Pasawahan.


“Misalnya berhenti di sini, bisa tidak nanti dijemput dengan mobil terbuka untuk memasuki kawasan-kawasan wisata yang ada se-Kecamatan Pasawahan? Silakan, asal ada kesepakatan antara kepala desa, Pak Camat, dan Dishub,” katanya.


Kios Terminal Gratis Sewa Setahun


Sementara itu, Camat Pasawahan Asep Dudi Riyadi, S.E., M.Si., mengatakan Hari Jadi ke-34 Kecamatan Pasawahan tidak sekadar dijadikan kegiatan seremonial. Momentum tersebut dimanfaatkan untuk menggerakkan sektor pariwisata sekaligus menghidupkan kembali Terminal Wisata Paniis.


Menurut Asep, rangkaian kegiatan tersebut memiliki dua misi utama.


Pertama, melalui GEMMPAR sebagai gerakan masyarakat menuju kecamatan pariwisata yang selaras dengan program Nata Daya, khususnya dalam pemberdayaan masyarakat dan pengembangan sektor pariwisata.


“Kedua melalui program Gempar, Gerakan Masyarakat Menuju Kecamatan Pariwisata. Program ini selaras dengan program Nata Daya, khususnya dalam pemberdayaan masyarakat dan pengembangan sektor pariwisata,” kata Asep.


Misi kedua adalah mengoptimalkan kembali Terminal Paniis yang selama ini belum berfungsi maksimal. Terminal tersebut diarahkan menjadi pusat aktivitas pariwisata sekaligus ruang usaha bagi masyarakat.


Untuk mendukung upaya tersebut, pemerintah mendorong agar kios-kios di kawasan terminal kembali dibuka dan dimanfaatkan.


Bahkan, masyarakat yang menempati kios diberikan keringanan berupa bebas biaya sewa selama satu tahun.


“Silakan kios dimanfaatkan untuk berusaha. Selama satu tahun tidak ada biaya sewa. Untuk pembenahan dan perapihan kios menjadi tanggung jawab masyarakat yang menempatinya,” jelasnya.


Asep menambahkan, teknis terkait kemungkinan bus wisata melakukan transit atau sekadar masuk ke kawasan Terminal Paniis masih menunggu kebijakan dari Dinas Perhubungan.


“Kita berkolaborasi dengan Dinas Perhubungan. Yang terpenting sekarang bagaimana Terminal Paniis ini kembali ramai, hidup dan berfungsi sesuai peruntukannya sebagai terminal pariwisata,” ucapnya.


Hidupkan Sapta Pesona


Menutup arahannya, Bupati Dian mengajak masyarakat Pasawahan menghidupkan kembali semangat Sapta Pesona, yakni aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, serta memberikan kenangan bagi wisatawan.


Ia meyakini penerapan prinsip tersebut secara konsisten akan memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat, mulai dari UMKM, homestay, kuliner hingga berbagai sektor usaha lainnya.


“Pariwisata memberikan side effect yang luar biasa. UMKM akan maju, homestay akan maju, kuliner akan maju, semuanya akan bergerak karena kedatangan para wisatawan,” pungkasnya.

×
Berita Terbaru Update