KTH Sapu Jagat Perkuat Konservasi Kawasan Penyangga TNGC, Fokus Jaga Mata Air dan Cegah Kebakaran
KUNINGAN, pemudakuningan.id – Kelompok Tani Hutan (KTH) Sapu Jagat di Desa Setianegara terus memperkuat peran masyarakat dalam menjaga kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Berbagai kegiatan konservasi dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari penanaman, pemeliharaan hutan, patroli kawasan, hingga pengamanan titik-titik mata air.
Ketua KTH Sapu Jagat, Jafar, mengatakan upaya konservasi yang dilakukan kelompoknya tidak hanya sebatas penanaman pohon, tetapi juga penjagaan kawasan hutan yang dinilai rawan dan vital bagi lingkungan serta masyarakat.
“Kami melakukan penanaman, pemeliharaan, penjagaan kawasan, serta patroli di titik-titik rawan, terutama di sekitar mata air sebagai suplai air untuk masyarakat,” ujar Jafar, Senin (9/2/2026).
Menurutnya, KTH Sapu Jagat telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak dan masyarakat dalam upaya konservasi kawasan mata air, termasuk di area yang sebelumnya terdampak kebakaran di wilayah administratif Desa Setianegara. Kawasan tersebut kini direhabilitasi melalui penanaman kembali, termasuk di area kebun bambu.
“Alhamdulillah, sampai sekarang masih berjalan dan terus kami rawat,” katanya.
Selain rehabilitasi, KTH Sapu Jagat juga mengelola persemaian bibit berbagai tanaman endemik dan Multi Purpose Tree Species (MPTS). Bibit tersebut dimanfaatkan untuk memulihkan kawasan hutan yang mengalami degradasi dan wilayah rawan kebakaran.
Jafar menegaskan, konservasi membutuhkan kearifan lokal dan keterlibatan masyarakat. Tanpa kepedulian warga sekitar, rehabilitasi dan penjagaan hutan dinilai sulit berjalan optimal.
“Konservasi harus nyata, bukan sekadar wacana. Penanaman, perawatan, dan pengamanan kawasan harus diiringi peningkatan kesadaran masyarakat,” tegasnya.
Dalam patroli rutin, KTH Sapu Jagat tidak hanya fokus pada pencegahan kebakaran hutan, tetapi juga memantau kondisi mata air dan ekosistem untuk menjaga keseimbangan lingkungan serta habitat satwa liar.
Untuk jenis tanaman, penanaman disesuaikan dengan karakter lingkungan. Di sekitar mata air ditanam picung, binuang, dan dadap. Sementara di wilayah rawan kebakaran ditanam tanaman relatif tahan api seperti petai dan simpur. Tanaman buah dari jenis MPTS juga dikembangkan untuk menyediakan pakan satwa liar agar tidak turun ke lahan pertanian warga.
“Dengan menanam pakan satwa di hutan, diharapkan satwa tidak masuk ke kebun warga,” jelasnya.
Anggota KTH Sapu Jagat, Maming, menambahkan kelompoknya aktif sejak 2019 dan rutin terlibat dalam penanaman, patroli, serta pembuatan sekat bakar saat musim kemarau.
“Di Desa Setianegara saja, sejak 2019 sampai sekarang sudah hampir 5.000 pohon yang kami tanam,” ungkapnya.
Patroli dilakukan secara gabungan bersama pihak TNGC dan mitra lainnya. Hingga kini, gangguan seperti pencurian kayu hampir tidak ditemukan, sementara potensi kebakaran menjadi fokus utama pengawasan.
Maming mengakui, keberadaan zona tradisional di kawasan TNGC turut memberikan dampak ekonomi bagi anggota KTH melalui komoditas seperti kopi, penyadapan pinus, dan MPTS.
“Manfaat ekonominya sangat terasa dan membantu ekonomi keluarga,” ujarnya.
Melalui Paguyuban Silihwangi Maja Kuning, KTH Sapu Jagat menilai pelestarian Gunung Ciremai harus berbasis kolaborasi dan keterlibatan masyarakat agar hutan tetap lestari sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.
.AY


Posting Komentar