Polemik Insentif Guru sebagai kordinator disekolah penerima Program MBG : Antara Tanggung Jawab dan Pembungkaman Suara Orang Tua
Kuningan, ( PK ) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) kini tengah menjadi sorotan. Bukan hanya soal distribusi gizi, namun juga terkait tata kelola koordinasi di tingkat sekolah dan transparansi pengawasan oleh publik.
Berdasarkan Surat Edaran BGN Nomor 5 Tahun 2025, setiap sekolah menunjuk 1 hingga 3 orang koordinator atau Person in Charge (PIC) untuk mengawal distribusi makanan. Para koordinator ini, yang diprioritaskan dari kalangan guru honorer, berhak menerima insentif sebesar Rp100.000 per hari penugasan yang dicairkan setiap 10 hari sekali.
Namun, di balik kebijakan insentif tersebut, muncul laporan mengenai adanya upaya pembatasan informasi di media sosial. Di salah satu wilayah di kecamatan jalakssna dilaporkan bahwa koordinator sekolah meminta orang tua murid untuk menghapus unggahan status WhatsApp terkait jalannya program MBG. Permintaan ini diduga muncul setelah pihak koordinator ditegur oleh pihak "dapur" atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Langkah ini memicu kekhawatiran mengenai fungsi kontrol sosial. Jika kritik atau sekadar dokumentasi harian dari orang tua diminta untuk dihapus, muncul pertanyaan besar mengenai akuntabilitas program jika terjadi hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.
Nurdiansyah orang tua murid menyampaikan Keresahan utama dari para orang tua adalah terkait risiko keamanan pangan. Muncul sebuah pertanyaan kritis: "Jika terjadi kasus keracunan massal, apakah koordinator sekolah akan tetap diam demi menjaga nama baik penyedia jasa (pihak dapur)?"
Secara aturan, insentif Rp100.000 tersebut diberikan justru untuk memotivasi pendidik dalam memastikan kelancaran dan keamanan konsumsi siswa. Jika koordinator lebih memilih mengikuti tekanan pihak dapur daripada mendengarkan masukan orang tua, maka esensi dari peran "penanggung jawab" tersebut patut dipertanyakan.
"Insentif itu bukan untuk membungkam kritik, tapi biaya profesionalisme untuk memastikan anak-anak makan dengan aman. Jika ada masalah gizi atau kebersihan, suara orang tua adalah deteksi dini yang paling jujur," ujar Nurdiansyah
Masyarakat berharap Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan perlindungan tidak hanya bagi para pengelola, tetapi juga menjamin ruang bagi orang tua murid untuk memberikan umpan balik demi keselamatan anak-anak mereka.
.AY ( PK )

Posting Komentar