Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Post ADS 1

Tag Terpopuler

Bermalam Beralaskan Abu, Tim Terakhir Relawan MPA Menembus Benteng Ciremai Mencari Sisa Titik Api

Selasa, 27 Oktober 2026 | 02.37 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-27T09:37:54Z


KUNINGAN, ( pemudakuningan ) - Malam merayap di lereng Gunung Ciremai. Cahaya matahari telah lama menghilang, berganti gelap yang menyelimuti hamparan bebatuan vulkanik dan vegetasi yang menghitam akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).


Di ketinggian sekitar 1600 di atas permukaan laut (mdpl), sepuluh orang relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Majakuning bertahan di tengah dinginnya malam. Tanpa tenda, mereka beristirahat seadanya, beralaskan abu sisa kebakaran, di sela-sela bebatuan yang menjadi bagian dari medan terjal menuju Gunung Dulang, kawasan zona rimba Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).


Mereka bukan sedang mendaki untuk menikmati pemandangan. Ada misi yang harus diselesaikan, menyisir sisa kebakaran dan mencari bara api yang masih berpotensi menyala kembali.


Perjalanan yang dimulai pada Minggu, 25 Oktober 2026, itu menjadi bagian dari upaya relawan masyarakat membantu memastikan kebakaran di kawasan Ciremai benar-benar terkendali.


Gunung Dulang, bukit yang dikenal masyarakat setempat dan berada di sekitar zona rimba Ciremai, menjadi tujuan tim khusus tersebut. Kepulan asap masih dilaporkan terlihat dari kawasan itu. Asap diduga berasal dari batang pohon tumbang yang terbakar dan menyimpan bara di bagian dalamnya.


Bagi relawan, kepulan asap bukan persoalan sepele. Bara yang luput dari pemadaman berpotensi kembali memicu kebakaran, terlebih kawasan tersebut berbatasan dengan zona rimba yang menjadi habitat beragam satwa dan ekosistem alami Ciremai.


Ketua MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, Nandar Junar Arif, S.Hut., menyiapkan sepuluh orang untuk menjalankan misi tersebut. Anggota tim dipilih dengan mempertimbangkan ketahanan fisik, pengetahuan medan, serta kesiapan menghadapi risiko perjalanan.


"Kami menyiapkan tim khusus untuk menembus medan ekstrem ini. Dari sejumlah relawan yang menyatakan siap, kami batasi sepuluh orang, juga memperhatikan faktor keselamatan dan logistik," ungkap Nandar.


Tim dipimpin Dodo Darsa, relawan MPA dari Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, yang sebelumnya mendapat perhatian publik setelah menyelamatkan seekor bayi surili saat kebakaran berlangsung. Ia didampingi Jafar dan relawan lainnya yang mengenal karakter kawasan hutan di sekitar tempat tinggal mereka.


Sebagian besar anggota tim berasal dari desa-desa yang berbatasan langsung dengan kawasan TNGC di Kecamatan Pasawahan. Kedekatan dengan kawasan hutan membuat mereka terbiasa mengenali jalur, bentang alam, dan sejumlah penanda yang membantu perjalanan di dalam kawasan.


Sebelum berangkat, tim berkumpul di Bale Kambang, kawasan sekitar Balai Desa Pasawahan yang menjadi pusat komando dan posko penanganan karhutla, dibawah kendali BPBD Kuningan hingga hari Minggu. Setelah memperoleh informasi bahwa tim yang bertugas di Bukit Seribu Bintang telah turun, rombongan MPA bersiap melanjutkan penyisiran akhir, karena masih ditemukan kepulan asap di kawasan tersebut.


Mereka menggunakan kendaraan SUV milik salahsatu lembaga, hingga titik penurunan di kawasan Bukit Seribu Bintang (BSB). Di tengah perjalanan, rombongan berpapasan dengan tim gabungan yang telah bersiaga sejak sehari sebelumnya. Petugas Balai TNGC, kepolisian, dan relawan lainnya berada di antara personel yang masih menjalankan tugas.


Dalam pertemuan singkat itu, mereka bertukar peralatan yang dibutuhkan di lapangan, termasuk gergaji mesin atau chainsaw beserta bahan bakarnya.


Sebelum melanjutkan perjalanan, Dodo memberikan pengarahan singkat. Doa bersama dipanjatkan agar seluruh anggota tim dapat menjalankan misi dan kembali dalam keadaan selamat.


"Tujuan hari ini kita akan menyisir sisa api di sekitar Gunung Dulang. Kepulan asap di sana dilaporkan masih ada, berasal dari pohon tumbang dan terdapat bara di dalamnya yang sulit padam. Jika dibiarkan, dikhawatirkan dapat memicu kebakaran lagi. Karena lokasi itu berbatasan langsung dengan zona rimba," jelas Dodo.


Sekitar pukul 17.00 WIB, tim mulai bergerak meninggalkan kawasan Bukit Seribu Bintang. Di hadapan mereka terbentang savana luas yang dipenuhi ilalang dan semak belukar setinggi satu hingga dua meter.


Jalur setapak menanjak membelah vegetasi yang rapat. Di beberapa titik, semak menghalangi pandangan sekaligus menutupi permukaan jalan. Tak ada sumber air yang bisa diandalkan di kawasan itu. Seluruh kebutuhan minum harus dipenuhi dari perbekalan yang dibawa sejak awal perjalanan.


Ketika rombongan masih berada di tengah savana, matahari mulai tenggelam. Suasana perlahan gelap dan anggota tim mulai mengandalkan cahaya senter untuk meneruskan langkah.


Selepas savana, jalur berubah menjadi kawasan hutan yang oleh warga setempat dikenal sebagai Leuweung Saeutik dan Leuweung Panjang. Setelah melewati dua kawasan itu, perjalanan memasuki medan berbatu dengan lubang, celah, serta semak yang menutupi permukaan tanah.


Setiap pijakan harus diperhitungkan. Batu-batu besar dan jalur yang tidak rata menuntut keseimbangan tubuh, terlebih ketika cahaya semakin terbatas.


Sekitar dua jam perjalanan, rombongan mencapai kawasan yang dikenal warga sebagai pintu masuk Benteng Ciremai. Di tempat ini, bentang alam berubah menjadi hamparan bebatuan vulkanik dengan vegetasi yang menghitam akibat kebakaran.


Benteng Ciremai merupakan sebutan masyarakat setempat untuk kawasan berbatu dengan cekungan dan dinding-dinding batuan alami. 


Bentuknya menyerupai benteng yang mengelilingi jalur menuju Gunung Dulang.


Di antara bebatuan dan abu kebakaran, masih terlihat beberapa bunga edelweis yang bertahan. Sebagian tampak layu, berdiri di tengah vegetasi yang menghitam setelah dilalap api.


Pemandangan itu menjadi pengingat bahwa kebakaran bukan hanya meninggalkan tanah yang menghitam, tetapi juga mengancam vegetasi yang tumbuh di kawasan pegunungan.


Para relawan berharap hujan segera turun agar sisa vegetasi yang masih bertahan memperoleh kesempatan untuk pulih.


Namun, mereka tak punya banyak waktu untuk berhenti. Di depan, tebing-tebing terjal Benteng Ciremai menunggu untuk dilewati.


Jalur semakin menanjak dengan kemiringan ekstrem. Kerikil, batuan lepas, dan semak yang terbakar menyulitkan langkah. Untuk melewati tebing, para relawan mengandalkan kemampuan membaca jalur dan pijakan yang sebelumnya telah dibuat oleh relawan lain.


Tanpa bantuan tali, mereka harus melewati dinding batu yang curam, kemudian turun ke lembah berbatu sebelum menghadapi tanjakan berikutnya menuju Gunung Dulang.


Perjalanan itu bukan hanya menguji kekuatan kaki, tetapi juga konsentrasi. Salah mengambil pijakan di antara bebatuan dapat membahayakan keselamatan.


Ketika waktu menunjukkan tengah malam, tim belum dapat melanjutkan perjalanan dengan aman. Mereka akhirnya beristirahat di kawasan tebing dengan alas seadanya.


Tidak ada tenda yang dibawa untuk bermalam. Sebagian relawan beristirahat di tempat terbuka, sementara yang lain memilih celah bebatuan atau berlindung di bawah batu besar. Hanya dua orang yang bermalam di sekitar Gunung Dulang, di antara pepohonan yang masih bertahan setelah kebakaran.


Udara dingin menyelimuti kawasan itu. Dengan perbekalan terbatas dan tubuh yang lelah, mereka beristirahat selama beberapa jam sebelum melanjutkan pencarian.


Sepanjang perjalanan, para relawan terus berdoa agar hujan segera turun dan membantu memadamkan sisa kebakaran di Ciremai.


Senin pagi, 26 Oktober 2026, tim kembali bergerak menyisir kawasan Gunung Dulang. Kepulan asap masih terlihat dari puncak bukit, sementara dua titik asap lainnya terpantau di perbatasan Benteng Ciremai dan Gunung Dulang.


Dodo kemudian membagi sepuluh anggota tim ke dalam dua kelompok. Masing-masing bergerak menuju titik asap yang berbeda.


Kelompok pertama mendaki menuju puncak Gunung Dulang dengan kemiringan jalur lebih dari 50 derajat. Di sana, mereka menemukan pohon tumbang yang masih menyimpan bara di bagian batangnya.


Kelompok kedua menemukan sumber asap serupa di dua titik lain. Kepulan asap berasal dari bara yang tertinggal di dalam batang pohon berdiameter besar.


Bara di dalam kayu menjadi salah satu tantangan pemadaman karena bagian yang membara tidak selalu terlihat dari permukaan. Meski api terbuka telah padam, panas di dalam batang dapat bertahan dan berpotensi menyulut kembali vegetasi kering di sekitarnya.


Para relawan MPA kemudian memadamkan bara dengan memotong bagian batang yang terbakar dan memecahnya agar bara di bagian dalam dapat dijangkau. Mereka menggunakan peralatan yang tersedia untuk memastikan sumber panas tersebut dapat dipadamkan.


Proses pemadaman berlangsung sekitar dua jam, hingga menjelang tengah hari.

Di tengah pekerjaan itu, kabut putih perlahan menyelimuti kawasan Gunung Dulang dari dua arah. Suasana berubah dingin ketika kabut berkumpul di sekitar lokasi para relawan bekerja.


Persediaan air bersih mereka mulai menipis. Setelah menempuh perjalanan panjang dan bekerja di tengah medan berbatu, kebutuhan air menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan.


Sekitar tengah hari, suara helikopter terdengar dari kejauhan. Dari arah suara, helikopter tampak berputar di sekitar kawasan Bukit Seribu Bintang sebelum akhirnya menjauh.


Tetesan air yang membasahi bebatuan dan vegetasi disambut gembira oleh para relawan. Mereka kembali memanjatkan doa, berharap gerimis berubah menjadi hujan yang dapat membantu mendinginkan kawasan bekas kebakaran.


Harapan itu akhirnya terjawab ketika tim mulai menuruni Benteng Ciremai. Hujan cukup deras mengguyur kawasan tersebut selama sekitar 20 menit.


Bagi sebagian orang, hujan mungkin hanya perubahan cuaca biasa. Namun, bagi relawan yang sejak malam sebelumnya berjibaku di kawasan kering tanpa sumber air, hujan menjadi kelegaan tersendiri.


Mereka bahkan menampung air hujan menggunakan jas hujan untuk membantu memenuhi kebutuhan minum.


Takbir dan pujian kepada Tuhan Yang Maha Kuasa terdengar dari rombongan. Di tengah kelelahan dan keterbatasan, hujan menjadi kabar yang telah lama mereka nantikan.


Dodo mengaku, tim sebenarnya berencana melanjutkan penyisiran hingga Selasa apabila masih ditemukan potensi titik api. Mereka bahkan telah bersiap menghadapi kemungkinan bermalam kembali di kawasan tersebut.


"Tadinya kami akan berusaha menyisir lagi potensi titik api. Kami siap bermalam untuk melanjutkan penyisiran hingga Selasa. Karena jika kawasan tersebut terbakar, api akan mengarah ke zona rimba dan inti. Tentunya sangat sulit dipadamkan seperti peristiwa pada 2019. Alhamdulillah ada hujan turun sehingga kami memutuskan untuk kembali ke pos Bukit Seribu Bintang," ungkap Dodo.


Hujan dan hasil penyisiran menjadi pertimbangan tim untuk kembali ke Bukit Seribu Bintang. Namun, kondisi kawasan secara keseluruhan tetap membutuhkan pemantauan agar bara yang tersembunyi tidak kembali memicu kebakaran.


Perjalanan turun dilakukan melalui jalur yang sama. Setelah melewati kawasan berbatu dan savana, para relawan akhirnya tiba di sekitar Bukit Seribu Bintang.


Di sana, mereka disambut anggota MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning lainnya, termasuk Nandar Junar Arif, yang menunggu perkembangan misi penyisiran.


Bagi masyarakat di sekitar Ciremai, keterlibatan dalam penanganan karhutla bukan sekadar membantu operasi pemadaman. Ada kedekatan dengan hutan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.


Pengetahuan mengenai jalur, pepohonan tua, cekungan, perbukitan, hingga lokasi yang dikenal melalui cerita turun-temurun menjadi bekal penting ketika mereka harus bergerak jauh ke dalam kawasan hutan.


Pengetahuan lokal itu membantu relawan mengenali posisi dan menentukan arah perjalanan ketika jalur semakin sulit dilalui. Dalam misi seperti penyisiran Gunung Dulang, kemampuan membaca medan menjadi salah satu modal utama untuk mencapai titik api sekaligus menjaga keselamatan tim.


Nandar mengapresiasi anggota MPA yang bersedia menjalankan misi di tengah keterbatasan dan medan ekstrem.


Menurutnya, keberanian relawan harus selalu disertai pertimbangan keselamatan, kesiapan fisik, dan perlengkapan yang memadai.


Ia juga mengingatkan bahwa upaya menjaga Ciremai tidak dapat dibebankan kepada satu pihak. Kerja sama masyarakat, petugas taman nasional, pemerintah, dan unsur terkait menjadi bagian penting dalam menghadapi kebakaran hutan.


Bagi Nandar, para relawan yang turun langsung ke lapangan telah menunjukkan kepedulian melalui tindakan nyata. Mereka meluangkan waktu, tenaga, dan kemampuan untuk membantu melindungi kawasan hutan yang menjadi habitat satwa serta berbagai jenis tumbuhan.


Di tengah perhatian publik yang kerap tertuju pada operasi pemadaman berskala besar, perjuangan relawan masyarakat seperti mereka tidak selalu terlihat. Padahal, pekerjaan menyisir bara tersembunyi di medan terjal membutuhkan ketekunan dan pengetahuan lapangan yang tidak sederhana.

Kisah perjalanan ke Gunung Dulang memperlihatkan sisi lain penanganan karhutla Ciremai: perjuangan warga yang bekerja jauh dari keramaian, bergerak dalam kelompok kecil, dan berhadapan langsung dengan sisa kebakaran.


Mereka tidak selalu membawa peralatan besar. Namun, dengan pengetahuan medan, kerja sama, dan kepedulian terhadap lingkungan, para relawan berupaya memastikan api tidak kembali menyala.


Perjalanan tersebut juga menjadi pengalaman langsung bagi jurnalis Kuningan, Bubud Sihabudin, yang mengikuti rombongan untuk menyaksikan perjuangan relawan MPA menembus jalur darat menuju titik asap di Gunung Dulang.


Di sepanjang perjalanan, kondisi medan yang terjal menyisakan luka lecet dan lebam. Saat turun dari kawasan savana menuju shelter Bukit Seribu Bintang, Bubud mendapat pertolongan dari relawan yang kemudian membantunya menggunakan tandu untuk melewati sebagian jalur.


Dalam perjalanan yang sama, Bubud juga menemukan sebuah selongsong peluru berukuran besar, khusus untuk senjata dengan jarak efektif diatas 1 kilometer di sekitar Benteng Ciremai. Namun sayang di selongsong tak ada informasi merk maupun pabrikan mana pembuatnya.


Benda tersebut muncul di antara bebatuan ketika ia menggunakan tongkat penyangga untuk membantu menjaga keseimbangan saat menuruni tebing.


Selongsong itu kemudian diserahkan kepada pihak paguyuban untuk dilaporkan kepada pihak berwenang, termasuk pengelola Taman Nasional Gunung Ciremai. Asal-usul dan jenis amunisinya belum diketahui dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.


Setelah seluruh anggota rombongan kembali ke kawasan Bukit Seribu Bintang, hujan kembali mengguyur kawasan tersebut pada Senin sore. Guyuran air memberi kelegaan tambahan setelah perjalanan panjang yang menguras tenaga.


Bagi tim MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, misi di Gunung Dulang menjadi salah satu pengalaman yang membekas dalam upaya membantu penanganan karhutla Ciremai.


Di balik hamparan abu, tebing batu, dan batang pohon yang masih menyimpan bara, ada warga yang memilih bergerak ketika hutan membutuhkan pertolongan.


Mereka datang dari desa-desa di sekitar Ciremai, membawa pengetahuan yang diwariskan oleh pengalaman hidup berdampingan dengan hutan. Mereka menembus jalur yang tidak mudah dijangkau, bertahan dalam dingin, dan bekerja memastikan sisa kebakaran tidak kembali menjadi ancaman.


Perjuangan itu mungkin tidak selalu terlihat oleh banyak orang. Namun, dari lereng hingga kawasan zona rimba, dedikasi para relawan MPA menjadi bagian penting dari cerita panjang masyarakat dalam menjaga Gunung Ciremai.



×
Berita Terbaru Update