Telusuri
24 C
id
  • Sign in / Join
  • Blog
  • Forums
Pemuda Kuningan
Buy template blogger
  • News
  • Eksekutif
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Budaya
    • Wisata
  • Politik
    • Video
  • Olahraga
  • Video
  • Featured
    • Home - Homepage
    • Home - Post Single
    • Home - Post Label
    • Home - Post Search
    • Home - Post Archive
    • Home - Eror 404
    • RTL LanguageNew
    • ChangelogNew
Pemuda Kuningan
Telusuri
Beranda Eksekutif Headline kesehatan News OKP Rokhim Wahyono: Jangan Salah Memaknai Radikal, Berpikir Sampai ke Akar Justru Diperlukan Bangsa
Eksekutif Headline kesehatan News OKP

Rokhim Wahyono: Jangan Salah Memaknai Radikal, Berpikir Sampai ke Akar Justru Diperlukan Bangsa

Abas
Abas
22 Jun, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


KUNINGAN, ( PK ) – Menanggapi pemberitaan mengenai kerentanan Generasi Z terhadap radikalisme digital, Rokhim Wahyono mengapresiasi langkah Diskominfo Kabupaten Kuningan yang terus memperkuat literasi digital dan wawasan kebangsaan bagi generasi muda. Menurutnya, upaya tersebut penting sebagai benteng menghadapi derasnya arus informasi di media sosial.


Namun demikian, Rokhim mengingatkan agar masyarakat tidak keliru memahami istilah radikal. Menurutnya, sebagaimana sering dijelaskan budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), kata radikal berasal dari bahasa Latin radix yang berarti akar. Secara hakiki, berpikir radikal berarti berpikir hingga ke akar persoalan, mencari penyebab paling mendasar dari suatu masalah agar solusi yang dihasilkan tidak hanya bersifat sementara atau menutupi gejalanya saja.


"Radikal dalam makna ilmiah dan filosofis bukanlah tindakan kekerasan. Radikal adalah cara berpikir yang mendalam, menyeluruh, objektif, dan berusaha menemukan kebenaran dari akar persoalan. Semua ilmuwan, filsuf, peneliti, bahkan para pembaru dalam sejarah, pada dasarnya berpikir secara radikal karena mereka tidak puas hanya melihat permukaannya," ujar Rokhim.


Ia menegaskan bahwa yang harus diwaspadai bukanlah sikap berpikir radikal, melainkan radikalisme, yaitu sebuah paham yang menjadikan kebencian, intoleransi, fanatisme sempit, serta kekerasan sebagai cara mencapai tujuan. Menurutnya, dua istilah tersebut memiliki makna yang sangat berbeda dan tidak boleh disamakan.


"Kalau seseorang mempertanyakan mengapa kemiskinan terjadi, mengapa korupsi terus berulang, atau mengapa ketimpangan sosial masih tinggi, kemudian ia menelusuri penyebabnya sampai ke akar masalah, itu adalah berpikir radikal. Justru cara berpikir seperti itulah yang dibutuhkan agar kebijakan publik menjadi tepat sasaran. Berbeda dengan radikalisme yang memaksakan kehendak melalui ancaman, kebencian, atau kekerasan," jelasnya.


Rokhim menilai Generasi Z memiliki karakter kritis, cepat belajar, dan berani menyampaikan pendapat. Karakter tersebut merupakan modal besar bagi kemajuan bangsa apabila diarahkan melalui pendidikan karakter, literasi digital, penguatan logika berpikir, serta ruang dialog yang terbuka.


Menurutnya, penguatan literasi digital sebaiknya tidak berhenti pada kemampuan memilah informasi benar dan salah, tetapi juga mengajarkan masyarakat untuk berpikir kritis, memahami konteks, melakukan verifikasi, menghargai perbedaan pandangan, serta membangun budaya diskusi yang sehat.


"Jangan sampai masyarakat takut berpikir kritis hanya karena khawatir dicap radikal. Bangsa yang maju justru dibangun oleh warga yang mampu berpikir sampai ke akar persoalan, berani mengoreksi kesalahan melalui cara-cara konstitusional, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, kemanusiaan, persatuan, serta supremasi hukum," tegasnya.


Di akhir keterangannya, Rokhim berharap istilah radikal tidak lagi digunakan secara serampangan sehingga menimbulkan stigma terhadap masyarakat yang berpikir kritis. Menurutnya, yang harus dilawan bersama adalah penyebaran paham radikalisme yang mengarah pada kekerasan, bukan semangat mencari akar persoalan demi menghadirkan solusi yang lebih adil, rasional, dan berkeadaban.



.AY

Via Eksekutif
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Responsive Advertisement
- Advertisment -
Responsive Advertisement

Featured Post

Program Gagal, Anggaran Menguap? LSM Frontal Desak Kejari Usut Dugaan Dana GU Disdikbud Kuningan Rp3,17 Miliar

Abas- Juli 19, 2026 0
Program Gagal, Anggaran Menguap? LSM Frontal Desak Kejari Usut Dugaan Dana GU Disdikbud Kuningan Rp3,17 Miliar
KUNINGAN, ( PK ) – Dugaan tidak tersalurkannya dana Ganti Uang (GU) pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kuningan Tahun Anggaran 2025 kem…

Most Popular

Demi Ekosistem dan Ketegasan Hukum, Tutup Pintu Bagi Penyadapan Getah Pinus Gunung Ciremai

Demi Ekosistem dan Ketegasan Hukum, Tutup Pintu Bagi Penyadapan Getah Pinus Gunung Ciremai

Februari 07, 2026
Sejumlah Kepala Sekolah Merasa Senang Peredaran LKS Dihilangkan

Sejumlah Kepala Sekolah Merasa Senang Peredaran LKS Dihilangkan

Februari 07, 2026
Kadin Kuningan Desak Penertiban LKS: "Jika Tak Sanggup, Ketua PGRI Sebaiknya Mundur"

Kadin Kuningan Desak Penertiban LKS: "Jika Tak Sanggup, Ketua PGRI Sebaiknya Mundur"

Februari 07, 2026

Editor Post

Diduga Memalsukan Dokumen Dapodik dalam Pengangkatan PPPK, Oknum Guru SDN 1 Cijemit Kecamatan Ciniru Terancam Dipenjara

Diduga Memalsukan Dokumen Dapodik dalam Pengangkatan PPPK, Oknum Guru SDN 1 Cijemit Kecamatan Ciniru Terancam Dipenjara

Juli 01, 2026
Gelombang Protes Guncang Desa Kalapagunung, Warga Desak Ngabihi Mundur Gara-Gara Kasus Asusila

Gelombang Protes Guncang Desa Kalapagunung, Warga Desak Ngabihi Mundur Gara-Gara Kasus Asusila

September 30, 2025
3,1 Miliar Penggunaan Kas GU Disdik Tanpa SPJ, Eks Kadis Pendidikan Diperiksa Kejaksaan

3,1 Miliar Penggunaan Kas GU Disdik Tanpa SPJ, Eks Kadis Pendidikan Diperiksa Kejaksaan

Juli 12, 2026

Popular Post

Demi Ekosistem dan Ketegasan Hukum, Tutup Pintu Bagi Penyadapan Getah Pinus Gunung Ciremai

Demi Ekosistem dan Ketegasan Hukum, Tutup Pintu Bagi Penyadapan Getah Pinus Gunung Ciremai

Februari 07, 2026
Sejumlah Kepala Sekolah Merasa Senang Peredaran LKS Dihilangkan

Sejumlah Kepala Sekolah Merasa Senang Peredaran LKS Dihilangkan

Februari 07, 2026
Kadin Kuningan Desak Penertiban LKS: "Jika Tak Sanggup, Ketua PGRI Sebaiknya Mundur"

Kadin Kuningan Desak Penertiban LKS: "Jika Tak Sanggup, Ketua PGRI Sebaiknya Mundur"

Februari 07, 2026

Populart Categoris

Pemuda Kuningan

About Us

Pemuda Kuningan berkembang, berkontribusi, dan menjadi agen perubahan..

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

© pemuda kuningan (PK)
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us